Sunday, April 03, 2005

T e a t e r K o m a

Rencana menulis tentang ini udah ada di pikiran sejak awal Maret lalu, setelah menonton Lakon Maaf,Maaf,Maaf Politik Cinta Dasamuka. Tapi apa daya, tiap hari waktunya digerogoti oleh kerja.. kerja.. kerja.. yang tersisa, gue persembahkan buat tidur dan sedikit berolahraga.. Alhasil, baru saat ini kesampean juga..

Mungkin hanya Teater Koma, panggung lakon yang paling rajin berproduksi di bumi persada Indonesia ini.. Gue masih inget, perjumpaan pertama gue dengan Teater Koma. Yaitu Rampok, hasil adaptasi The Robber karya Friedrich Schiller. (pokoknya gue masih SMP waktu itu) Dan gue sekeluarga langsung jatuh hati sama Teater Koma ini.. Dan apalagi kalo bukan humor-nya mereka yang jadi faktor utama. Terpingkal-pingkal, terkekeh-kekeh, terbahak-bahak, semua orang bisa sampe sakit perut gara-gara kelucuan mereka yang khas ‘koma’ sekali..

Tak cukup dikenal hanya karena banyolannya, perkumpulan Kesenian yang bersifat non-profit ini juga populer karena rajin mengkritisi situasi kondisi sosial politik di tanah air. Jadi gak heran di zaman antah-berantah-dahulu-kala-ketika-si-doi-berkuasa Teater Koma sering menghadapi pelarangan serta pencekalan dari pihak yang berwenang. Namun sang pentolan N.Rintiarno beserta barisan anggotanya gak pernah berhenti berkarya. Dari perjalanan hidup mereka yang menginjak usia ke 28 tahun ini, ada banyak aktor dan aktris terkenal yang singgah ‘bermain’ bareng mereka.. Ada Didi Petet, (Alm) Tarida Gloria, Rima Melati, Titi Qadarsih, Ine Febriyanti, Cornelia Agatha, Ria Irawan, Butet Kertaredjasa dan masih banyak lagi..

Bagi gue sendiri, dari sekian banyak lakon mereka yang gue tonton.. ada beberapa yang berkesan..

Rampok, since ini perjumpaan pertama kali gue dengan Teater Koma dan mulai berangan-angan maen teater bareng mereka.. (tapi sayangnya mo mulai dari teater di sekolah, ternyata cupu men.. hahahahaha)

Opera Ular Putih, dari semua yang pernah gue tonton.. ini yang setting panggungnya paling ciamik.. Lucu dan gokil banget.. Tapi indah dari segi cerita

Sampek Engtay, ini cerita cinta dari daratan Cina sono… lagi-lagi.. kocak abis.. Ceritanya bagi yang ga tau tentang kisah cinta pria dan wanita.. si wanita nyamar jadi cowok biar bisa sekolah di sekolah khusus cowok.. Eh ternyata dia jadi suka sama si pria.. dan si pria pun sama.. tapi jadi binun jangan-jangan doi suka sesama jenis (ini yg bikin lucu).. akhirnya kisah mereka sampai pada dilema perbedaan status sosial.. yang akhirnya berujung tragis. Sampek Engtay versi Cina-nya sendiri pernah difilmkan.. Ya salah satu kisah cinta fantastis lah di muka bumi ini..

Semar Gugat, ceritanya Semar lama-lama kesel juga.. kok dia kerjanya diremehkan dan dihina dina terus oleh salah satu Pandawa, akhirnya Semar menggugat khayangan dan minta ‘keadilan’. Yang paling gue inget adalah si akting Petruk yang kocak banget.. One of the lines that I still remember: “Piss.Petruk suka nge-Piss” hehehe.. Yang ini gue sampe punya buku skenarionya..

Opera Kecoa, Harus kasih tepuk tangan meriah, standing ovation, terompet membahana 7 kali, sorakan kagum untuk Salim Bungsu sang pemeran Julini, ‘banci’ yang jadi primadona lakon Opera Kecoa. Lucu.. Kocak.. Lucu.. Gee.. I need a new word for ‘funny’, hilarious! Opera Kecoa sendiri mengisahkan kehidupan para ‘kecoa-kecoa’ metropolitan yang dalam hal ini para PSK dengan berbagai problematikanya..

dan.. yang terakhir.. yaitu.. yang terakhir..
hehehe…
alias Maaf.Maaf.Maaf Politik Cinta Dasamuka. Karya N. Rintiarno.

Pertama kali dipentaskan di Teater Tertutup Kesenian Jakarta TIM pada tanggal 12-16 April 1978. Tercatat, pada hari terakhir pementasan, jumlah penonton mencapai sekitar 200% dari kapasitas gedung. Kaca loket sampai pecah, lantai anak tangga auditorium penuh diduduki orang. Karena ada kritik yang mungkin dirasa tajam, lakon ini tidak diizinkan naik pentas lagi di kampus-kampus luar Jakarta. Bagi Teater Koma, itu lah pencekalan pentasnya yang pertama.
(sumber: Buku Acara Maaf.Maaf.Maaf, 2005)

Image hosted by Photobucket.com


Ceritanya tentang keluarga yang tadinya hidup tenang di sebuah istana. Suatu hari, Ario sang kepala keluarga merasa dirinya Kaisar Dasamuka, dan berperilaku layaknya pemimpin otoriter dan menyebut anggota keluarga dengan nama-nama wayang. Pada awalnya semua setia dan rela berkorban mengikuti sandiwara kegilaan Ario ini, sampai akhirnya ada yang tidak tahan dan bermaksud memasukkan Ario ke rumah sakit jiwa.

Dari segi kelucuan, memang lakon Teater Koma kali ini gak ‘kebanjiran’ humor-humor fantastis. Tapi entah kenapa gue suka banget ama ceritanya.. Jadi sedikit teringat dengan ’50 First Dates’-nya Adam Sandler & Drew Barrymore. Ada perasaan nelangsa yang sama ketika lakon ini berakhir dan saat adegan terakhir film komedi romantis itu.


Di pentasnya yang ke 105 ini, Teater Koma tetap bersikukuh menyatakan dalam bukunya bahwa teater bisa menjadi salah satu jembatan menuju suatu keseimbangan batin dan jalan bagi terciptanya kebahagiaan yang manusiawi. Jujur, bercermin lewat teater, diyakini pula sebagai salah satu cara untuk menemukan kembali akal sehat-budi-nurani.

Bravo Teater Koma! Ayo berlakon lagi!


[Hi] ehem ehem… met someone new
[Lo] not enough time to read, to sleep, and to write this blog!

1 Comments:

Anonymous Anonymous said...

Hi Turang
Aku sedang browsing tentang Sampek Engtay 2005 untuk Dokumentasi. Aku baca blog Turang yang memuji koma he he he...

Sudah dapat tiket Sampek Engtay 2005?
Semoga bisa nonton. Aku main jadi Sampek.

9:14 AM  

Post a Comment

<< Home